Kamis, 20 September 2012

hemangioma

-->
HEMANGIOMA


Hemangioma adalah suatu tumor jaringan lunak / tumor vaskuler jinak akibat proliferasi (pertumbuhan yang berlebih) dari pembuluh darah yang tidak normal dan dapat terjadi pada setiap jaringan pembuluh darah. Hemangioma sering terjadi pada bayi baru lahir dan pada anak berusia kurang dari 1 tahun (5-10%). Biasanya, hemangioma sudah tampak sejak bayi dilahirkan (30%) atau muncul setelah beberapa minggu setelah kelahiran (70%). Hemangioma muncul di setiap tempat pada permukaan tubuh seperti kepala, leher, muka, kaki atau dada.

Hemangioma merupakan tumor vaskular jinak terlazim pada bayi dan anak. Meskipun tidak menutup kemungkinan dapat terjadi pada orang tua, contohnya adalah cherry hemangioma atau angioma senilis yang biasanya jinak, kecil, red-purple papule pada kulit orang tua. Umumnya hemangioma tidak membahayakan karena sebagian besar kasus hemangioma dapat hilang dengan sendirinya beberapa bulan kemudian setelah kelahiran. Harus diwaspadai bila hemangioma terletak di bagian tubuh yang vital, seperti pada mata atau mulut. Hal ini dikarenakan, bila menutupi sebagian besar tempat tersebut akan mengganggu proses makan dan penglihatan, atau bila hemangioma terjadi pada organ dalam tubuh (usus, organ pernafasan, otak) dapat mengganggu proses kerja organ tersebut. Hemangioma lebih mengganggu bagi para orang tua ketika hemangioma tumbuh pada muka atau kepala bayi.





Hingga saat ini apa yang menjadi penyebab hemangioma masih belum diketahui, namun diperkirakan berhubungan dengan mekanisme dari kontrol pertumbuhan pembuluh darah. Angiogenesis sepertinya memiliki peranan dalam kelebihan pembuluh darah. Cytokines, seperti Basic Fibroblast Growth Factor (BFGF) dan Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF), mempunyai peranan dalam proses angiogenesis. Peningkatan faktor-faktor pembentukan angiogenesis seperti penurunan kadar angiogenesis inhibitor misalnya gamma-interferon, tumor necrosis factor–beta, dan transforming growth factor–beta berperan dalam etiologi terjadinya hemangioma.



Hemangioma kapiler

Tanda-tanda Hemangioma kapiler, berupa:

- Bercak merah tidak menonjol dari permukaan kulit. “Salmon patch” berwarna lebih muda sedang “Port wine stain” lebih gelap kebiru-biruan, kadang-kadang membentuk benjolan di atas permukaan kulit.

Hemangioma kavernosum

Tampak sebagai suatu benjolan, kemerahan, terasa hangat dan “compressible” (tumor mengecil bila ditekan dan bila dilepas dalam beberapa waktu membesar kembali).

Hemangioma Campuran.

Diantara jenis Hemangioma kavernosum dan campuran ada yang disertai fistula arterio-venous (bawaan).

gejala klinis

Tergantung macamnya :

Hemangioma kapiler, “Port wine stain” tidak ada benjolan kulit.

“Strawberry mark”, menonjol seperti buah murbai.

Hemangioma kavernosum, teraba hangat dan “compressible”.

pemeriksaan dan diagnosis

Mudah nampak secara klinis, sebagai tumor yang menonjol atau tidak menonjol dengan warna kemerah-merahan Tumor bersifat “compressible” Kalau perlu dengan pemeriksaan angiografi.



Meskipun mekanisme yang jelas mengenai kontrol dari pertumbuhan dan involusi hemangioma tidak begitu dimengerti, pengetahuan mengenai pertumbuhan dari pembuluh darah yang normal dan proses angiogenesis dapat dijadikan petunjuk. Vaskulogenesis menunjukkan suatu proses dimana prekursor sel endotel meningkatkan pembentukan pembuluh darah, mengingat angiogenesis berhubungan dengan perkembangan dari pembuluh darah baru yang ada dalam sistem vaskular tubuh. Selama fase proliferasi, hemangioma mengubah kepadatan dari sel-sel endotel dari kapiler-kapiler kecil. Sel marker dari angiogenesis, termasuk proliferasi dari antigen inti sel, collagenase tipe IV, basic fibroblastic growth factor, vascular endothelial growth factor, urokinase, dan E-selectin, dapat dikenali oleh analisis imunokimiawi.

Hemangioma superfisial dan dalam, mengalami fase pertumbuhan cepat dimana ukuran dan volume bertambah secara cepat. Fase ini diikuti dengan fase istirahat, dimana perubahan hemangioma sangat sedikit, dan fase involusi dimana hemangioma mengalami regresi secara spontan. Selama fase involusi, hemangioma dapat hilang tanpa bekas. Hemangioma kavernosa yang besar mengubah kulit sekitarnya, dan meskipun fase involusi sempurna, akhirnya meninggalkan bekas pada kulit yang terlihat. Beberapa hemangioma kapiler dapat involusi lengkap, tidak meninggalkan bekas.





Hemangioma Kapiler (Superficial Hemangioma)

Terjadi pada kulit bagian atas. Hemangioma kapiler disebut juga strawberry hemangioma (hemangioma simplek), terjadi pada waktu lahir atau beberapa hari setelah lahir. Sering terjadi pada bayi prematur dan biasanya akan menghilang beberapa hari atau beberapa minggu kemudian. Gejalanya antara lain tampak bercak merah yang lama-kelamaan makin besar. Lama-kelamaan warnanya menjadi merah menyala, berbatas tegas, keras pada perabaan tegang dan berbentuk lobular. Involusi spontan ditandai oleh memucatnya warna didaerah sentral, lesi menjadi kurang tegang dan lebih mendatar.

Selain strawberry hemangioma (hemangioma simplek), bentuk lain hemangioma kapiler (superficial hemangioma) adalah granuloma piogenik. Lesi ini terjadi akibat proliferasi kapiler yang sering terjadi sesudah trauma, jadi bukan oleh karena proses peradangan, walaupun sering disertai infeksi sekunder. Lesi biasanya soliter, dapat terjadi pada semua umur, terutama pada anak dan tersering pada bagian distal tubuh yang sering mengalami trauma. Mula-mula berbentuk papul eritematosa dengan pembesaran yang cepat. Beberapa lesi dapat mencapai ukuran 1 cm dan dapat bertangkai, mudah berdarah.

2. Hemangioma Kavernosum

Terjadi pada kulit yang lebih dalam yaitu di bagian dermis dan subkutis (lapisan pada kulit). Hemangioma kavernosum biasanya tidak memiliki batas tegas berupa benjolan yaitu makula eritematosa atau nodus yang berwarna merah keunguan. Bila ditekan mengempis dan menggembung kembali bila dilepas. Kelainan ini terdiri dari elemen vaskular (pembuluh darah) yang matang. Hemangioma kavernosum kadang-kadang terdapat pada lapisan jaringan yang dalam, pada otot atau organ dalam. Bentuk kavernosum jarang mengadakan involusi spontan. Berbentuk papul eritematosa dengan pembesaran yang cepat. Beberapa lesi dapat mencapai ukuran 1 cm dan dapat bertangkai, mudah berdarah.

3. Hemangioma Campuran

Pada beberapa kasus, kedua jenis hemangioma diatas dapat terjadi bersamaan dan dinamakan hemangioma campuran. Gambaran klinisnya juga terdiri atas gambaran kedua jenis hemangioma tersebut. Banyak ditemukan pada ekstremitas inferior (alat gerak tubuh bagian bawah, misalnya; kaki, paha, dll), unilateral (satu sisi bagian tubuh, misalnya; paha kiri/kanan), soliter (tunggal) dan terjadi sejak lahir atau pada masa anak-anak. Ciri-cirinya antara lain tonjolan bersifat lunak dan berwarna merah kebiruan yang kemudian pada perkembangannya dapat memberi gambaran keratotik dan verukosa. Lokasi hemangioma campuran pada lapisan kulit superfisial (permukaan) dan dalam, atau di organ dalam.

Secara klinis diagnosis hemangioma tidak sukar, terutama jika gambaran lesinya khas, tapi pada beberapa kasus diagnosis hemangioma dapat menjadi susah untuk ditegakkan, terutama pada hemangioma yang letaknya lebih dalam.

Diagnosis hemangioma selain dengan gejala klinis, juga dapat ditegakkan dengan pemeriksaan penunjang lain. Penggunaan teknik pencitraan membantu dalam membedakan kelainan pembuluh darah dari beberapa proses neoplasma yang agresif. Ultrasonografi dengan Doppler merupakan cara yang efektif, karena tidak bersifat invasif dan dapat menunjukkan gambaran aliran darah yang tinggi antara hemangioma dengan tumor solid.

Pada penggunaan X-ray, hemangioma jenis kapiler, X-ray jarang digunakan karena tidak dapat menggambarkan masa yang lunak, sedangkan pada hemangioma kavernosum biasanya dapat terlihat karena terdapat area kalsifikasi. Kalsifikasi ini terjadi karena pembekuan pada cavitas cavernosum (phleboliths). Isotop scan pada hemangioma kapiler dapat menunjukkan peningkatan konsistensi dengan peningkatan suplai darah, tapi cara ini jarang digunakan. Angiografi menunjukkan baik tidaknya pembuluh darah juga untuk mengetahui pembesaran hemangioma karena neo-vaskularisasi.

Magnetic Resonance Imaging (MRI) menunjukkan karakteristik internal dari suatu hemangioma dan lebih jelas membedakan dari otot-otot yang ada di sekitarnya.

Hemangioma dapat didiagnosa dengan pemeriksaan fisik. Pada kasus hemangioma dalam atau campuran, CT Scan atau MRI dapat dikerjakan untuk memastikan bahwa struktur yang dalam tidak terlibat.





Tidak ada cara untuk mencegah hemangioma, baik yang dilakukan sebelum maupun selama kehamilan.

1. Perdarahan

Komplikasi ini paling sering terjadi dibandingkan dengan komplikasi lainnya. Penyebabnya ialah trauma dari luar atau ruptur spontan dinding pembuluh darah karena tipisnya kulit di atas permukaan hemangioma, sedangkan pembuluh darah di bawahnya terus tumbuh.

2. Ulkus

Ulkus menimbulkan rasa nyeri dan meningkatkan resiko infeksi, perdarahan, dan sikatrik. Ulkus merupakan hasil dari nekrosis. Ulkus dapat juga terjadi akibat ruptur. Hemangioma kavernosa yang besar dapat diikuti dengan ulserasi dan infeksi sekunder.

3. Trombositopenia

Jarang terjadi, biasanya pada hemangioma yang berukuran besar. Dahulu dikira bahwa trombositopenia disebabkan oleh limpa yang hiperaktif. Ternyata kemudian bahwa dalam jaringan hemangioma terdapat pengumpulan trombosit yang mengalami sekuesterisasi.

4. Gangguan Penglihatan

Pada regio periorbital sangat meningkatkan risiko gangguan penglihatan dan harus lebih sering dimonitor. Amblyopia dapat merupakan hasil dari sumbatan pada sumbu penglihatan (visual axis). Kebanyakan komplikasi yang terjadi adalah astigmatisma yang disebabkan tekanan tersembunyi dalam bola mata atau desakan tumor ke ruang retrobulbar. Hemangioma pada kelopak mata bisa mengganggu perkembangan penglihatan normal dan harus diterapi pada beberapa bulan pertama kehidupan.

5. Masalah Psikososial

6. Dengan persentase yang sangat kecil hemangioma bisa menyebabkan obstruksi jalan nafas, gagal jantung.









1. MEDIS

Penatalaksanaan hemangioma secara umum ada 2 cara, yaitu :

a). Cara Konservatif

Pada perjalanan alamiahnya lesi hemangioma akan mengalami pembesaran dalam bulan-bulan pertama, kemudian mencapai pembesaran maksimum dan sesudah itu terjadi regresi spontan sekitar umur 12 bulan, lesi terus mengadakan regresi sampai umur 5 tahun. Hemangioma superfisial atau hemangioma kapiler atau hemangioma strawberry sering tidak diterapi karena hemangioma jenis ini bila dibiarkan akan hilang dengan sendirinya dan kulit terlihat normal.

b). Cara Aktif

Hemangioma yang memerlukan terapi secara aktif, antara lain adalah hemangioma yang tumbuh pada organ vital, seperti pada mata, telinga, dan tenggorokan; hemangioma yang mengalami perdarahan; hemangioma yang mengalami ulserasi; hemangioma yang mengalami infeksi;hemangioma yang mengalami pertumbuhan cepat dan menimbulkan deformitas (kelainan) jaringan. Penatalaksanaan hemangioma secara aktif, antara lain :

1). Pembedahan

Indikasi :

Terdapat tanda-tanda pertumbuhan hemangioma yang terlalu cepat

Minggu lesi menjadi 3-4 kali lebih besar.

Hemangioma raksasa dengan trombositopenia.

Tidak ada regresi spontan-spontan, misalnya tidak terjadi pengecilan hemangioma sesudah 6-7 tahun.

Lesi yang terletak pada wajah, leher, tangan atau vulva yang tumbuh cepat, mungkin memerlukan eksisi lokal untuk mengendalikannya.

Radiasi

Pengobatan radiasi sudah tidak dilakukan lagi karena :

Penyinaran berakibat kurang baik pada anak-anak yang pertumbuhan tulangnya masih sangat aktif.

Komplikasi berupa keganasan yang terjadi pada jangka waktu lama.

Menimbulkan fibrosis pada kulit yang masih sehat yang akan menyulitkan bila diperlukan suatu tindakan.

Kebanyakan hemangioma kapiler akan beregresi.

3) Kortikosteroid

Kriteria pengobatan dengan kortikosteroid ialah :

Apabila melibatkan salah satu struktur yang vital.

Tumbuh dengan cepat dan mengadakan destruksi kosmetik.

Secara mekanik mengadakan obstruksi salah satu orifisium.

Adanya banyak perdarahan dengan atau tanpa trombositopenia.

Menyebabkan dekompensasio kardiovaskular.

Kortikosteroid yang dipakai ialah antara lain prednison yang mengakibatkan hemangioma mengadakan regresi, yaitu untuk bentuk strawberry, kavernosum, dan campuran. Dosisnya per oral 20-30 mg perhari selama 2-3 minggu dan perlahan-lahan diturunkan, lama pengobatan sampai 3 bulan.

Terapi dengan kortikosteroid dalam dosis besar kadang-kadang akan menimbulkan regresi pada lesi yang tumbuh cepat.

Hemangioma kavernosa yang tumbuh pada kelopak mata dan mengganggu penglihatan umumnya diobati dengan steroid injeksi yang menurunkan ukuran lesi secara cepat, sehingga perkembangan penglihatan bisa normal. Hemangioma kavernosa atau hemangioma campuran dapat diobati bila steroid diberikan secara oral dan injeksi langsung pada hemangioma.

Penggunaan kortikosteroid peroral dalam waktu yang lama dapat meningkatkan infeksi sistemik, tekanan darah, diabetes, iritasi lambung, serta pertumbuhan terhambat.

4) Obat sklerotik

Penyuntikan bahan sklerotik pada lesi hemangioma, misalnya dengan namor hocate 50%, HCl kinin 20%, Na-salisilat 30%, atau larutan NaCl hipertonik. Akan tetapi cara ini sering tidak disukai karena rasa nyeri dan menimbulkan sikatrik.

5) Elektrokoagulasi

Cara ini dipakai untuk spider angioma untuk desikasi sentral arterinya, juga untuk Hemangioma senilis dan granuloma piogenik.

6) Pembekuan

Aplikasi dingin dengan memakai nitrogen cair.

7) Antibiotik

Antibiotik diberikan pada hemangioma yang mengalami ulserasi. Selain itu dilakukan perawatan luka secara steril.




2. ASUHAN KEBIDANAN

Penatalaksanaan yang dapat dilakukan oleh bidan dalam hal ini adalah dengan memberikan konseling pada orang tua bayi. Bidan menjelaskan mengenai apa yang dimaksud dengan Hemangioma, menjelaskan macam-macam hemangioma, dan penangannya.

Untuk hemangioma kapiler atau superfisial tidak perlu penanganan khusus, oleh karena akan menghilang dan kulit terlihat normal. Namun, untuk hemangioma yang tumbuh pada organ vital, seperti pada mata, telinga, dan tenggorokan; hemangioma yang mengalami perdarahan; hemangioma yang mengalami ulserasi; hemangioma yang mengalami infeksi;hemangioma yang mengalami pertumbuhan cepat dan menimbulkan deformitas (kelainan) jaringan, harus segera dilakukan penanganan. Bantu ibu untuk dilakukan rujukan untuk pemeriksaan lanjutan.


Gangguan gizi bayi balita


Penis penyakit gangguan gizi yang sering menimpa penduduk terutama anak balita di Indonesia adalah :
a. Gangguan gizi akibat kekurangan energi dan protein (KEP)
b. Gangguan gizi akibat kekurangan vitamin A (KVA)
c. Gangguan gizi akibat kekurangan besi (Anemia gizi)
d. Gangguan gizi akibat kekurangan yodium


1. Gangguan Kesehatan akibat Kekurangan Energi dan Protein (KEP)

Hasil penelitian di berbagai tempat dan di banyak negara menunjukkan bahwa penyakit gangguan gizi yang paling banyak ditemukan adalah gangguan gizi akibat kekurangan energi dan protein (KEP). Dalam bahasa Inggris penyakit ini disebut Protein Calorie Malnutrition atau disingkat PCM. Ada juga ahli yang menyebutnya sebagai Enery Protein Malnutrition atau EPM, namun artinya sama.

Ada dua bentuk KEP yaitu marasmus dan kwashiorkor. Baik marasmus maupun kwashiorkor keduanya disebabkan oleh kekurangan protein. Akan tetapi pada marasmus di samping kekurangan protein terjadi juga kekurangan energi. Sedangkan pada kwashiorkor yang kurang hanya protein, sementara kalori cukup. Marasmus terjadi pada anak usia yang sangat muda yaitu pada bulan pertama setelah lahir, sedangkan kwashiorkor umumnya ditemukan pada usia 6 bulan sampai 4 tahun.

Ada empat ciri yang selalu ditemukan pada penderita kwashiorkor yaitu sebagai berikut :
  • Adanya oedema pada kaki, tumit dan bagian tubuh lain seperti bengkak karena ada cairan tertumpuk.
  • Gangguan pertumbuhan badan. Berat dan panjang badan anak tidak dapat mencapai berat dan panjang yang semestinya sesuai dengan umurnya.
  • Perubahan aspek kejiwaan, yaitu anak kelihatan memelas, cengeng, lemah dan tidak ada selera makan.
  • Otot tubuh terlihat lemah dan tidak berkembang dengan baik walaupun masih tampak adanya lapisan lemak di bawah kulit.

Istilah marasmus berasal dari bahasa yunani yang sejak lama digunakan sebagai istilah dalam ilmu kedokteran untuk menggambarkan seorang anak yang berat badannya sangat kurang dari berat badan seharusnya. Ciri utama penderita marasmus adalah sebagai berikut :
  • Anak tampak sangat kurus dan kemunduran pertumbuhan otot tampak sangat jelas sekali apabila anak dipegang pada ketiaknya dan diangkat. Berat badan anak kurang dari 60% dari berat badan seharusnya menurut umur.
  • Wajah anak tampak seperti muka orang tua. Jadi berlawanan dengan tanda yang tampak pada kwashiorkor. Pada penderita marasmus, muka anak tampak keriput dan cekung sebagaimana layaknya wajah seorang yang telah berusia lanjut. Oleh karena tubuh anak sangat kurus, maka kepala anak seolah-olah terlalu besar jika dibandingkan dengan badannya.
  • Pada penderita marasmus biasanya ditemukan juga tanda-tanda defisiensi gizi yang lain seperti kekurangan vitamin C, vitamin A, dan zat besi serta sering juga anak menderita diare.


2. Gangguan Kesehatan Akibat Kekurangan Vitamin A

Vitamin A diperlukan untuk penglihatan. Vitamin tersebut merupakan bagian penting dari penerima cahaya dalam mata. Selain itu vitamin A juga diperlukan untuk mempertahankan jaringan ari dalam keadaan sehat. Kulit, pinggiran dan penutup berbagai bagian tubuh, seperti kelopak mata, mata, hidung, mulut, paru-paru dan tempat pencernaan, kesemuanya dikenal sebagai jaringan ari.

Vitamin A juga mempunyai beberapa fungsi yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan. Kekurangan vitamin A pertumbuhan menjadi terhambat dan rangka tubuh berhenti tumbuh.

Tanda awal dari kekurangan vitamin A adalah tureunnya kemampuan melihat dalam cahaya samar. Penderita sama sekali tidak dapat melihat apabila memasuki ruangan yang agak gelap secara tiba-tiba. Penyakit ini umumnya diderita oleh anak-anak.

Terjadinya kekurangan vitamin A adalah sebagai akibat berbagai sebab seperti berikut ini :
  • Tidak adanya cadangan vitamin A dalam tubuh anak sewaktu lahir karena semasa dalam kandungan, ibunya kurang sekali mengkonsumsi makanan sumber vitamin A.
  • Kadar Vitamin A dalam air susu ibu (ASI) rendah. Hal ini disebabkan konsumsi vitamin A ibu yang rendah pada masa menyusui.
  • Anak diberi makanan pengganti ASI yang kadar vitamin A-nya rendah.
  • Anak tidak menyukai bahan makanan sumber vitamin A terutama sayursayuran.
  • Gangguan penyerapan vitamin A oleh dinding usus oleh karena berbagai sebab seperti rendahnya konsumsi lemak atau minyak.

Kekurangan vitamin A dapat meyebabkan cacat menetap pada mata (buta) yang tidak dapat disembuhkan. Xerophthalmia sebagai akibat kekurangan vitamin A merupakan penyebab kebutaan tertinggi, dan yang memprihatinkan adalah penderitanya justru anak-anak usia balita yang merupakan tunas bangsa.

Penanggulangan kekurangan vitamin A dilakukan selain dengan jalan penyuluhan guna memperbaiki makanan keluarga agar lebih banyak mengkonsumsi bahan makanan sumber vitamin seperti sayuran hijau dan buah-buahan berwarna, dilakukan juga pemberian vitamin dosis tinggi yaitu 200.000 – 300.000 SI kepada anak balita.


3. Gangguan Kesehatan Akibat Kekurangan Zat Besi (Anemia Gizi)

Besi adalah mineral mikro yang mempunyai peran penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Mineral tersebut terdapat dalam darah dan semua sel tubuh. Zat besi dalam darah merah berada sebagai bagian dari hemoglobin dan pigmen sel merah. mineral tersebut bertindak sebagai pembawa oksigen dan karbondioksida.

Jika tidak terdapat cukup besi untuk memenuhi kebutuhan tubuh, maka jumlah hemoglobin dalam sel darah merah berkurang dan keadaan tidak sehat timbul yang dikenal sebagai anemia gizi. Rendahnya kadar hemoglobin dalam darah dilihat apabila bagian kelopak mata penderita terlihat berwarna pucat. Kadar baku hemoglobin dalam darah yang digunakan untuk menentukan apakah seseorang menderita anemia gizi adalah seperti terlihat pada tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Kadar Baku Hb dalam Darah
Umur (thn)
Jenis Kelamin
Kadar Hb (g/100ml)
0,5 - 4
5 - 9
10 - 14
Pria / wanita
Pria / wanita
Pria / wanita
Dewasa pria
Dewasa wanita
Wanita hamil
10,8
11,5
12,5
14,0
12,0
10,0
Sumber : Jellife (1996) dalam Sjahmien Moehji (1986)

Zat besi terutama banyak sekali hanya terdapat dalam sayur-sayuran. Demikian juga asam folat, sedang bitamin B12 hanya terdapat dalam bahan makanan yang berasal dari hewan. Pencegahan anemia gizi selain dengan mengkonsumsi bahan makanan sumber zat besi juga dapat dilakukan dengan jalan memberikan zat besi dalam bentuk tablet kepada wanita hamil terutama dalam masa tiga bulan terakhir menjelang anak lahir.


4. Gangguan Kesehatan Akibat Kekurangan Iodium

Kekurangan iodium akan mengakibatkan membesarnya kelenjar gondok. karena itu, penyakit yang timbul akibat kekurangan iodium disebut penyakit gondok. Karena penyakit pembesaran kelenjar gondok ini ditemukan di daerah-daerah tertentu untuk jangka waktu yang lama, maka disebut penyakit gondok endemik.

Di daerah penyakit gondok endemik, pembesaran kelenjar gondok dapat terjadi pada semua umur, bahkan seorang ibu yang menderita pembesaran gondok akan melahirkan bayi yang juga menderita kekurangan iodium dan jika tidak diobati maka pada usia satu tahun sudah akan terjadi pembesaran kelenjar gondoknya.

Kejadian pembesaran kelenjar gondok terbanyak ditemukan pada usia antara 9 sampai 13 tahun pada anak laki-laki dan antara usia 12 sampai 18 tahun pada anak perempuan. Pada usia dewasa jarang sekali terjadi pembesaran kelenjar gondok kecuali pada wanita yang sering ditemukan pembesaran kelenjar gondoknya baru timbul setelah usia 19 atau 20 tahun. Setelah mencapai usia puber, kelenjar gondok yang timbul pada usia kanak-kanak itu cepat sekali membesar dan dapat berubah menjadi bentuk nodula. Akan tetapi yang mengkhawatirkan adalah kemungkinan terjadinya manusia kerdil atau kretinisme di samping gangguan perkembangan otak yang membawa akibat gangguan mental.

Terjadinya kekurangan iodium terutama akibat rendahnya kadar iodium dalam tanah sehingga air dan tumbuh-tumbuhan yang hidup di daerah itu juga rendah kadar iodiumnya. Di samping itu beberapa jenis makanan mengandung zat yang dapat menyebabkan terjadinya pembesaran kelenjar gondok dan disebut zat goiterogen. Zat tersebut ditemukan dalam sayuran dari jenis Brassica seperti kubis, lobak, kol kembang. Juga zat tersebut ditemukan dalam kacang kedelai, kacang tanah dan obat-obatan tertentu. Zat goiterogen tersebut dapat menghalangi pengambilan iodium oleh kelenjar gondok sehingga konsentrasi iodium dalam kelenjar gondok sangat rendah. Selain itu zat tersebut juga dapat menghambat perubahan iodium dari bentuk anorganik menjadi bentuk organik sehingga menghambat pembentukan hormon tiroksin.

Masih ada beberapa faktor lain yang diduga dapat mengakibatkan terjadinya pembesaran kelenjar gondok, seperti air minum yang tercemar, kadar zat kapur dalam air yang terlalu tinggi dan sebagainya.

Dengan diketahuinya penyebab terpenting dari penyakit gondok itu maka usaha-usaha pencegahan telah dapat dilakukan dengan mudah. Pada tahun 1833 dilakukan percobaan dengan mencampurkan iodium ke dalam garam kapur dan baru dalam tahun 1924 usaha pencegahan penyakit gondok ini dengan menggunakan garam beriodium (iodized salt) secara besar-besaran dilakukan di Amerika Serikat. Jenis iodium yang digunakan dalam pembuatan garam beriodium adalah persenyawaan iodat kalium (KIO3) dengan kadar satu bagian iodium dicampur dengan 10.000 – 200.000 bagian garam. Di Indonesia pembuatan garam beriodium ini dilakukan dengan jalan memasukkan 3,3 mg larutan KI ke dalam tiap bata garam (brickets) dan dengan cara ini diperoleh garam beriodium dengan kadar 20 ppm.


5. Gangguan Kesehatan Akibat Kelebihan Zat Energi

Perkembangan ekonomi yang pesat, menyebabkan peningkatan pendapatan penduduk. Hal ini ditandai dengan terjadinya pergeseran pola konsumsi kearah yang lebih beraneka ragam. Proporsi sumber kalori dari karbohidrat khususnya beras, berkurang dan diikuti dengan meningkatnya lemak dan protein terutama dari sumber hewani.

Dengan meningkatnya pendapatan ini, mereka yang hidup di kota dengan gaya serta pola makan seperti orang barat, biasanya menjadi menderita karena kelebihan gizi ini. Pola makan mereka biasanya mengkonsumsi terlalu banyak protein, lemak, makanan tak berserat.

Kelebihan zat gizi dalam hal ini zat energi dalam jangka waktu yang berkesinambungan akan menyebabkan berat badan meningkat, timbunan lemak meningkat dan terjadi kegemukan (obesitas). Biasanya orang yang gemuk sulit bergerak cepat, gerakan jadi lamban dan biasanya lebih lanjut mudah terkena gangguan fungsional jantung dan ginjal.

Tambahan konsumsi energi berikutnya pada penderita kegemukan akan menyebabkan energi bersifat racun atau mendekatkan diri pada kematian dibanding daya manfaat yang sebenarnya. Demikian pula konsumsi protein yang berlebihan menyebabkan beban kerja ginjal semakin berat, dan bila terus berlebih akan menimbulkan gangguan pada ginjal. Dampak lain dari kelebihan konsumsi energi dan protein ini selain penyakit jantung dan ginjal, juga dapat mengakibatkan penyakit darah tinggi, kencing manis, kanker.

Penanggulangan penyakit akibat gizi lebih, harus dimulai dari pengaturan makanan, artinya dengan mengurangi porsi makanan yang biasa dikonsumsi, mengurangi konsumsi gula, garam, lemak, dan meningkatkan konsumsi makanan yang berserat seperti sayuran dan buah-buahan.

peredaran darah ibu ke bayi


Minggu, 16 September 2012

hebatnya sang eritrosit..

Untuk dapat memahami pembentukan dan perjalanan eritrosit dalam tubuh manusia, maka aku coba mengemasnya melalui sebuah cerita pendek berikut ini… Semoga bisa bermanfaat…!!!


“Tak kusangka, waktuku ternyata tinggal sehari saja. Tugas berat yang selama ini aku emban, terpaksa harus kulepaskan. Yah, akupun sadar mungkin aku memang sudah terlalu tua untuk menjalankan tugas ini.” Ujar sebuah eritrosit tua kepada sahabatnya.
“Yah, begitulah. Memang waktu hidup kita ini sudah ditentukan oleh Sang Pencipta. Kita tidak punya kuasa apa-apa untuk melawan kodrat tersebut. Jadi, jika waktunya hampir tiba, kita hanya bias menunggu dan berpasrah. Betul! Kita tinggal menunggu saja waktu yang tepat bagi ajal untuk datang dan meremukkan badan kita yang bulat, cekung dan tak berinti ini.” Balas sang sahabat dengan tatapan yang teramat sedih.

“Aku setuju dengan pendapatmu. Hanya saja, ku rasa kau tak perlu bersedih seperti itu. Malahan, sebaliknya sekarang ini kita harus merasa bahagia dan bangga. Karena ternyata pengorbanan kita akan tugas yang kita emban selama ini, berdampak baik bagi kesehatan majikan kita. Usaha kita, walaupun hanya 120 hari saja tetapi mendatangkan manfaat yang besar bagi kehidupan majikan kita bukan hanya sekarang tapi juga di masa yang akan datang. Yah, aku berani berkata begitu karena ada buktinya. Majikan kita ini, selalu kelihatan segar dan sehat setiap harinya. Bukan seperti isterinya yang saban hari tampak pucat dan lesu karena kehadiran teman-teman kita untuknya terlampau kurang dari normal. Tetapi, menurutku salah wanita itu juga. Dia yang tak pernah mengundang teman-teman kita. Dia tidak mau makan makanan yang berserat dan yang mengandung vitamin B. Akhirnya, teman-teman kita malas kan untuk datang padanya. Oiya, kembali ke masalah semula, yaitu sekarang kau tak usah bersedih hati lagi. Mari sama-sama kita menyambut ajal itu dengan hati yang gembira dan syukur.” Jelas si eritrosit tua panjang-lebar. Membuat sahabatnya menjadi sangat berkesan dan terharu.
“Aku bangga mempunyai sahabat sepertimu. Disaat-saat menjelang kematianmupun, kau masih memberikan kata-kata penguatan untukku. Terima kasih banyak, sahabat.” Ujar sang sahabat tulus. “Ohya, apa kau pernah mengalami hal-hal sulit selama kau jalani tugasmu ini?” lanjut sang sahabat memberikan pertanyaan. Si eritrosit tua tampak menerawang jauh, memikirkan jawaban yang akan dikeluarkannya.
“Ya! Aku pernah mengalaminya. Waktu itu, ketika aku sedang menjalankan tugas sehari-hariku, yaitu mengangkut oksigen, sambil melewati jembatan kapiler, tiba-tiba saja musuh kita datang menyerang. Kalau aku tak salah ingat, namanya adalah Patogen. Aku sangat terkejut dengan kehadirannya tersebut. Bayangkan saja, dia menyerangku, bahkan hendak membunuhku. Syukurlah, aku cepat-cepat mengeluarkan senjata andalan kita, yaitu radikal bebas yang terdapat dalam hemoglobin. Dan berhasil. Patogenpun tewas seketika. Itulah ceritaku yang sangat berkesan. Apa kau pernah mengalami hal yang sama?” Eritrosit tua bertanya balik kepada sahabatnya. Namun, belum sempat sahabatnya itu menjawab, ‘ajal’ yang mereka perbincangkan tadi datang dan menelannya. Eritrosit tuapun menangis dan berkata lirih pada dirinya sendiri “Inilah waktuku. Dia sudah datang!”
Yah, ajal yang mereka perbincangkan – yang semula ditakutkan oleh sang sahabat dari si eritrosit tua - itu bernama Fagositosis berasal dari daerah Hati dan Limpa. Dimana, di dalam daerah Hati nanti, tubuh – terutama senjata andalan mereka, yaitu hemoglobin para eritrosit tua akan diolah menjadi sesuatu yang bernama bilirubin. Walaupun begitu, para eritrosit tua bukan mati dan hilang begitu saja, namun mereka masih juga memberikan satu-satunya harta yang tersisa dari mereka, yaitu suatu zat yang bernama zat besi. Zat tersebut sangat berharga, karena akan digunakan untuk membentuk eritrosit yang baru.
Para eritrosit tua yang dahulu berwarna merah, yang menandakan keberanian mereka melawan para musuh, kini berubah warna menjadi hijau. Warna sendu yang mengambarkan kesedihan mereka. Sungguh malang nasib para eritrosit yang setia itu dalam masa hidupnya yang sangat singkat!




Suatu pagi, di suatu rumah yang bernama sumsum tulang merah, berlangsung suatu acara meriah yang biasa disebut Eritropoiesis. Acara yang selalu berlangsung setiap 120 hari sekali ini sangat berkesan. Karena, di acara inilah dibentuk para eritrosit muda yang siap menjalankan tugas mereka dan siap menggantikan para eritrosit tua yang sudah tak mampu lagi mengerjakan tugas mereka.
Acara Eritropoiesispun dimulai. Di dalam suatu kamar khusus, sang peracik eritrosit, yang bernama Pluripoten sudah bersiap-siap dengan segala alatnya. Tidak lupa dibantu oleh sang asisten yang bernama Hormon Eritropoietin. Alat dan bahan yang diperlukan pun sudah tersedia dengan apik. Merekapun mulai menjalankan tugas berat ini.

“Ayo, kita mulai sekarang! Jangan sekali-kali berbuat kesalahan! Bisa berdampak buruk bagi kehidupan majikan kita. Siap??!” Tanya Pluripoten. Dan dibalas anggukan oleh sang asisten.
Merekapun mulai meracik bahan yang ada dengan menggunakan alat-alat yang tersedia. Pertama-tama, mereka meracik bahan-bahan yang tersedia, dengan tidak lupa menambahkan zat besi yang didapat dari para eritrosit yang sudah tua dan mati. Hasil racikan pertama ini disebut Proeritroblas. Dengan menggunakan rangsangan yang sesuai, maka akan terbentuk lagi sel-sel baru yang dinamakan Basofil Eritroblas. Sel-sel ini masih memiliki sedikit sekali hemoglobin.
Pada tahap berikutnya, terbentuklah sel-sel baru yang cukup hemoglobinnya dan dinamakan Polikromatofil Eritroblas. Sesudah terjadi reaksi berikutnya, maka akan terbentuklah sel-sel baru yang mengandung lebih banyak hemoglobin dan dinamakan Ortokromatik Eritroblas, dimana warnanya telah berubah menjadi merah.

“Boss, selanjutnya bagaimana kita tahu bahwa sel-sel ini nantinya akan berubah menjadi retikulosit?” Tanya sang asisten di tengah-tengah tugas mereka. “Pertanyaan yang bagus! Kita bisa mengetahui bahwa sel ini telah berkembang menjadi retikulosit adalah dengan melihat sitoplasmanya. Jika sitoplasmanya sudah dipenuhi oleh hemoglobin, sehingga mencapai konsentrasi lebih kurang 34%, nukleus akan memadat sampai ukurannya menjadi lebih kecil dan terdorong dari sel. Nah! Sel-sel inilah yang akan disebut retikulosit. Paham?!” Jelas Pluripoten panjang-lebar. Sang asistespun mengangguk kuat-kuat tanda mengerti.
Pada tahap akhir, retikulosit tadi kemudian berkembang menjadi eritrosit dalam satu sampai dua hari setelah dilepaskan dari rumah sumsum tulang merah. Dan para eritrosit muda inipun bersiap-siap menjalankan tugas mereka selama 120 hari ke depan. Bertarung hidup dan mati demi mengabdikan diri kepada sang majikan!


“Eh, mengapa tubuh kalian para eritrosit harus berwarna merah sih? Mengapa tak bening saja kayak kita para leukosit? Memangnya, beda kalian sama kita itu apaan sih?” Tanya sebuah leukosit kepada sebuah eritrosit, ketika si eritrosit sedang menjalankan tugasnya. Si eritrositpun menghentikan sebentar pekerjaannya dan menjawab “Itu karena para eritrosit memiliki suatu zat yang ada di dalam tubuh yang disebut hemoglobin. Nah! Hemoglobin inilah yang memberikan warna merah pada kulit kita. Selain itu, hemoglobin ini juga yang menyebabkan kita para eritrosit mempunyai pekerjaan penting setiap harinya yaitu mengangkut gas oksigen dan karbon dioksida demi kesehatan majikan kita. Kurang-lebihnya, seperti itulah yang dapat aku jelasin. Selanjutnya, kamu kan bisa sendiri membandingkan dengan kalian para leukosit. Iya nggak?!” Jelas si eritrosit.

“Oh, jadi gitu ya? Emm, aku ngerti sekarang! Makanya pekerjaan kalian itu beda sama kita, ternyata karena hemoglobin itu ya?! Kalau gitu, terima kasih ya, eritrosit. Aku pergi dulu. Aku mau menyelesaikan pekerjaanku. Kamu juga, selamat bekerja ya…” Ujar si leukosit sambil berlalu pergi kembali ke tempatnya.
“Oke…. Sampai jumpa nanti ya… Kamu juga selamat bekerja... Semoga kita semua bisa bekerja sama dengan baik untuk kesehatan majikan kita ini ya…. Dagh…. Dagh…. Kalau ada sesuatu yang mengganjal, tanyakan saja padaku… aku siap membantu!” si eritrosit berseru. Dia sangat senang bisa memberikan penjelasan tentang dirinya bahkan komunitasnya kepada orang yang memang membutuhkan penjelasan, seperti si leukosit tadi. Si eritrosit tadi sangat bahagia.

Setelah memberikan salam perpisahan tadi, si eritrositpun melanjutkan tugasnya kembali. Bekerja sambil bersenandung riang. Tak peduli seberat apapun pekerjaan yang sedang dilaluinya. Ia yakin, bahwa pengorbanannya ini dia lakukan demi kesehatan majikannya. Tak peduli berapa lama lagi waktu yang akan dihabiskannya. Entah itu hanya lima hari, dua hari, bahkan satu hari lagi, ia tak akan peduli. Yang terpenting, selama masa hidupnya yang singkat, yaitu hanya 120 hari saja, ia telah memberikan suatu dampak yang baik bagi majikannya.

Dan bila nanti saatnya akan tiba pula, ia tak peduli. Ia akan terus merasa bahagia seperti sekarang ini dan menyambut ajal bernama Fagositosis itu dengan hati yang ikhlas dan tanpa penyesalan. Bahkan tidak dengan rasa sakit dan sedih sedikitpun. Mungkin, itulah tekad yang ada dalam dirinya sekarang. Sebuah eritrosit yang menjalankan tugas beratnya dalam waktu hidupnya yang singkat, 120 hari saja!